..trace__of__mind..





<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31

[ Background by www.nuthinbutnet.net ]

______________


LiNk teMen

diqz
ukhti
Chel0
arida
Nda
nisa
S9G



______________

..my Side..

kafe muslimah
annida
kata manis

______________

Today Is




If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed




Powered by TagBoard Message Board
Name

URL or Email

Messages(smilies)

Friday, September 03, 2004
Makna dari bintang-bintang__

Seperti bintang-bintang…

 

Satu tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh cahaya dalam satu tahun.Kecepatan cahaya dalam ruang hampa adalah sekitar tiga ratus ribu kilometer per detik. Sehingga dalam satu tahun cahaya berarti mempunyai jarak 9,460,800,000,000. kilometer. Ibarat seseorang yang menempuh perjalanan sejauh itu tentu memerlukan waktu yang lama, begitu pula dengan cahaya dari bintang yang jaraknya  bisa sampai ratusan tahun cahaya. Bintang Alkaid mempunyai seratus tahun cahaya dari bumi. Berarti cahaya yang kita lihat dari bintang Alkaid sekarang merupakan pancaran cahaya dari seratus tahun yang lalu.

Seperti matahari, bintang juga suatu saat nanti akan berhenti beraktivitas. Semua bintang mempunyai umur hidup yang menentukan pancaran cahaya yang diberikannya. Beberapa bintang itu sebenarnya sudah tidak ada,sudah tak beraktivitas lagi,sudah mati. Namun kita masih dapat melihat pancaran cahayanya.

Melalui cahaya bintang itu pula, kita bisa menggunakannya untuk menghitung berapa lama lagi matahari akan meredup dan menjadi mati.

Allah memberikan kita semua alam ini agar kita berfikir.Jadi, sesungguhnya Allah mempunyai tujuan lain dari penciptaan alam semesta ini. Sama seperti bintang, manusia pun diberi waktu untuk hidup.

Nabi Muhammad pernah berkata: Kita ini mempunyai umur sekitar enam puluh sampai tujuh puluh tahun. Dalam kurun waktu itu,seperti bintang,merupakan waktu untuk memancarkan cahaya. Waktu kita bisa memberikan yang terbaik untuk kemaslahatan umat dan mencari ridho Allah. Seperti tokoh-tokoh ilmuan, Einstein,Galileo atau Ibnu sina.. mereka akan tetap dikenang karena cahaya mereka, yaitu amal yang mereka lakukan untuk kebaikan umat..

“Akankah kita masih memancarkan cahaya setelah kita mati nanti,,,?”

 

“Maha Suci Allah Yang ditangan Nyalah segala kerajaan, Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatau yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali nkepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat, dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.”(Al Quran. Al Mulk,1-4)


Posted at 06:37 am by bung4
kasi koment pliz...!  

Tuesday, August 31, 2004
ikhlas

Memang riya', 'ujub, sum'ah, dan semacamnya adalah penyakit-penyakit yang membahayakan. Bahaya karena sebenarnya penyakit itu akan menghancurkan kemerdekaan kita. Kita tidak merdeka karena dalam tindakan-tindakan itu, hati kita terbelenggu oleh (pujian, applaus, dan sikap-sikap) orang lain. Kalau tidak mendapat pujian atau sedikitnya perhatian, kita tak mau (mungkin kurang semangat) melakukannya.

Puncak kemerdekaan kita adalah keikhlasan (dalam setiap amal perbuatan kita) kepada Allah Swt. Silahkan..., orang mau tahu atau tidak, mau memuji atau tidak, yang penting saya adalah saya, kokoh dengan tindakan dan pendirian saya. Beginilah kemerdekaan.

Riya' itu satu tangga di bawah balas dendam. Karena riya' sumber kesalahannya melulu berasal dari diri kita sendiri. Tanpa ada orang lain mendahului. Sedangkan balas dendam didahului oleh tindakan orang lain. Kita membenci orang lain karena dia memulai membenci kita. Kita menyakiti orang lain karena dia telah menyakiti kita lebih dulu, dst.

Nah, jika balas dendam saja tidak dianjurkan, apalagi riya'. Riya' itu ibaratnya menjual (kemerdekaan) diri kita ditukar dengan (belenggu) pujian, penghormatan, atau sikap-sikap simpati lainnya dari orang lain. Betapa kerdilnya diri kita, jika demikian!!!

Kaitannya dengan hal ini, ada hadis yang sangat menarik: "Ta'isa 'abdu al-dînâr, wa al-dirham, wa al-qathîfah. In u'thiya radliya, wa in lam yu'tha lam yardla" (Celakalah para materialis, [penghamba dinar, dirham, dan sutera]. Senang jika diberi, dan tak senang jika tak diberi). [Riwayat Imam Bukhari, Bulűghul Marâm].

Pelajaran apa yang bisa diambil dari hadis tersebut? Sungguh, ia merupakan pelajaran akhlak yang amat agung. Penyebutan jenis-jenis materi di atas hanyalah sebatas contoh. Jadi, walaupun hadis itu hanya menyebut "dinar", "dirham", dan "sutera", tentu materi apapun jenisnya bisa disamakan. Bahkan tak terbatas pada materi saja, hal-hal yang berupa emosi (senang, benci, cinta, dan semacamnya). Sehingga bisa disamakan ke dalam pengertian hadis tersebut ungkapan seperti "tak senang karena tak diberi, senang karena diberi", "membenci karena dibenci", "mencintai karena dicintai", "memukul karena dipukul", "tak menghormati


 

Arif..


Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk badan dan rupamu tetapi melihat niat dan keikhlasan didalam hatimu." Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya yang paling kutakuti atas kamu sekalian adalah syirik kecil." Sahabat bertanya: "Apa syirik kecil itu ya Rasulullah?" Rasulullah bersabda: "Syirik yang kecil itu adalah riya." Riya dapat menghanguskan amal ibadah kita, karena suatu amal ibadah yang seharusnya ingin mendapatkan keridhoan Allah, berubah menjadi ingin mendapatkan nilai dan pujian dari orang lain. Dalam beramal kita harus menjaga niat agar terbebas dari ingin dipuji dan dinilai orang lain, ciri-ciri orang yang tidak ikhlas dalam beramal ialah ada orang dengan tidak ada orang amal ibadahnya berbeda. Kunci ikhlas adalah kita harus yakin Allah yang Maha membalas, Allah yang Maha menyaksikan dan Allah yang Maha menguasai semua yang kita inginkan. Dalam beramal bukan karena tampak atau tidak tampak oleh orang lain, tetapi karena apa yang menjadi niat dihatinya. Berlebih-lebihan dalam pengeluaran tergantung pada niat, keperluan dan kemampuan dari orang yang mengeluarkannya.


Posted at 03:03 am by bung4
kasi koment pliz...!  

sabar_

ANTARA SABAR DAN MENGELUH

Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya. 
"Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati." 
Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini." 

Abu Hassan bertanya, "Bagaimana hal yang merisaukanmu ?" 
Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?" 
Jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu ?" 
Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua." 

Lalu Abul Hassan bertanya, "Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?" 
Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka." 
Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,:
" Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil keksaihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya." 

Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,:
" Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang." 
Dan sabdanya pula, " Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaian dari wap api neraka." (Riwayat oleh Imam Majah) 
Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.


Posted at 02:52 am by bung4
kasi koment pliz...!  

Friday, August 27, 2004
al kisah

al kisah disuatu jaman hiduplah seorang sufi yang bernama Hasan AL Basri...
pada suatu hari beliau bersama dengan seorang muridnya berjalan-jalan
diluar padepokannya, dan tibalah mereka disebuah sungai yang air nya
sedang meluap, di dipinggiran sungai tersebut terdapat sebuah grave
yard...ehhh...perkuburan...yang akibat
meluap sungai tersebut maka banyak kuburan2 yang terkena erosi dan
hanyut terbawa arus, trus kerangka2 manusianya pada berserakan semua...
kemudian oleh sang sufi Hasan Basri ini, kerangka2 tersebut
dikumpulkan kembali...tau apa yang dilakukan terhadap kerangka2
manusia tersebut, beliau mengumpulkan kepalanya, kemudian tu batok
kepala ditusuk pake tombak yang memang selalu beliau bawa...
ketika ditusuk ada batok kepala yang tidak tembus sama sekali, dan
beliau mengumpulkannya disuatu tempat, ada juga batok kepala yang
tembusnya hanya setengah dan beliau mengumpulkannya juga di satu
tempat, dan yang ketika adalah batok kepala yang ketika ditusuk maka
tembus kedua sisinya, dan juga dikumpulkan disuatu tempat...

kemudian kerangka yang batok kepalanya nggak tembus itu dan yang
batok kepalanya tembus sampai kebelakannya itu dibuang kembali ke
sungai dan hanyut bersama arus sungai tersebut yang lagi
kencang2nya...dan satu kumpulan kerangka yang batok kepalanya hanya
tembus setengahnya saja, dikubur kembali oleh sang sufi

trus muridnya bingung deh, kenapa sang guru melakukan hal tersebut
terhadap kerangka2 tersebut, kemudian ditanyakanlah kepada sang guru.
apa kata sang guru...

itu batok kepala yang ditusuk tapi nggak tembus itu tandanya ketika
hidupnya tuh orang memang nggak pernah sama sekali mau mendengarkan
perintah Allah yang disampikan kepadanya, apa lagi mau
mengerjakannya, makanya batoknya itu keras seperti batu....

trus yang kedua, kepala yang ketika ditusuk tembus kebelakang itu
adalah orang yang ketika hidupnya dia ikut pengajian, dia
mendengarkan perintah Allah, tapi tidak mau melaksanakannya,
istilahnya masuk kuping sebelah kanan, keluar kuping sebelah kiri...

trus yang ketiga, kepala yang tembusnya hanya setengah, ini orang2
ketika hidupnya setelah dia mendengarkan perintah kebaikan, ikut
pengajian deelel, maka dia mau melaksanakan apa yang telah
diketahuinya itu....dan inilah batok kepala yang pantas dikatakan
sebagai batok kepala manusia, dan harus dikubur kembali, sedangkan
yang dua lagi tadi, nggak bisa dikatakan sevbagai kerangka manusia,
makanya dibbuang aja kesungai....


Posted at 07:39 am by bung4
kasi koment pliz...!  

Next Page